Pelajaran I.T buat guru-guru
.T. (Information Technology) atau yang dalam bahasa Indonesia lebih akrab dengan nama Teknologi dan Informasi merupakan satu dari sekian belas mata pelajaran sekolah siswa/i SMP , SMA, dan dilanjuti mengenai pemahaman pelajaran ini hingga jenjang yang lebih tinggi,Perkuliahan. Atau bahkan di beberapa Sekolah Dasar –dengan kurikurum tertentu— telah ada yang memperkenalkan disiplin ilmu ini pada murid-muridnya.
Di Era Millenium dengan dasar dan berasaskan Globalisasi,manfaat mempelajari pelajaran yang tenar beberapa tahun silam ini sudah barang tentu amat bermakna. Ya,maknanya sebuah kecepatan dan ketepatan. Kecepatan memperoleh informasi dengan ketepatan teknologi terkini. Cara singkat mencetak bibit-bibit muda intelek yang mampu “menggubah” nama Indonesia di mata dunia.
Mungkin terlampau bermimpi dan berharap. Tapi dari mimpi dan harapan itulah lahir sebuah kenyataan. “Meminjam” -kata yang biasa di utarakan seorang guru besar Indonesia,Prof.Dr.Laode,ketika menyampaikan opininya– kalimat Walt Disney,”Jika kamu bisa memimpikannya,kamu bisa melakukannya,” .Ya. Mimpi yang bukan tak mungkin untuk diwujudkan.
Dan dari mimpi-mimpi mencetak kaum cendiki,guru-guru SMA Negeri 82 –serta guru-guru lain dengan keikhlasan mereka,di lain tempat sana— berusaha meningkatkan profesionalitas yang mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai tenaga-tenaga pendidik. Agaknya pepatah kuno : Guru kencing berdiri,murid kencing berlari-lari,. Menjadi imam mereka,para guru SMA 82, untuk keukeuh belajar I.T. Atau lebih tepatnya merancang program Pelatihan Khusus I.C.T. (Information Communication and Technology) dan mengikuti kegiatan tersebut selama dua hari.
Tapi sebelumnya,ada hal yang mengganjal,”Untuk apa guru-guru tersebut belajar I.T?,” Bukankah mereka tiap-tiapnya telah menguasai dengan handal fak-fak ilmunya masing-masing? Tak mungkin diragukan,guru Fisika pasti paham benar mengenai rumus-rumus njelimet penentuan masa,kecepatan dan lainnya. Guru-guru Ekonomi juga hakqul yaqin telah hafal teori-teori perdagangan. Begitu pula dengan rekan mereka yang lain. Tapi apapun keahlian mereka di bidang-bidangnya,mereka tetap selalu ingin menjadi tauladan yang baik bagi murid-muridnya,dan hal ini berpulang pada pepatah kuno tadi.
Perputaran jaman mengubah nafas ilmu menjadi arena yang mengasyikkan. Friendster,Blog,dan media dunia maya lainnya adalah unsur-unsur kecil dari I.T. Bagi siswa pelajar seumuran kita mungkin kata Friendster tak lagi asing di telinga. Bisa dikatakan bagi anak yang tak mengetahui Friendster,”Ini orang tinggal di Goa bagian bumi mana sih?,” Boleh dibilang 99,9% dari anak sekolahan jika Browsing internet situs inilah yang pertama dibuka.
Baiklah,kali ini bukan Friendster yang menjadi topik perbincangan,melainkan pelajaran I.T. Namun jika dihubung-hubungkan,akan berhubungan pula,jika disimpulkan anak sekolahan model begini –yang suka buka Friendster,juga— secara langsung maupun tidak telah menjajaki pelajaran I.T,dan bisa jadi sudah mahir tingkat tinggi.
Pengaruh I.T yang begitu besar dalam dunia pendidikan dan yang mampu pula mengubah peradaban dunia,disadari oleh guru-guru SMA 82. Sarat dengan semangat dan kegigihan peningkatan kinerja setelah memperoleh ISO,mereka memantapkan langkahnya mengikuti pelatihan I.C.T selama dua hari,19 s.d 20 Januari di awal tahun 2008. Weekend,sabtu dan minggu bukan menjadi halangan. Mereka justru merasa senang mendapati materi-materi ringkas mengenai Pembuatan bahan ajar berbasis I.C.T dan Pengenalan internet,dari para instruktur. Instrustur yang melatih mereka bukan dari luar,melainkan teman se-profesi yang memang tergabung dalam sebuah teamwork dan memang memahami seluk beluk I.T dibanding yang lain. Bapak Joehanes,Bapak Syamsudin,dan Bapak Iswahyudi merupakan satu tim gabungan yang dipercayakan dalam hal ini. Dan yang memberi materi adalah Pak Joe dan Pak Syam.
Ditemui saat pelatihan tanggal 19,guru-guru tampak serius menyimak materi yang disampaikan para instruktur. Dan di sela kegiatan,terselip canda antar para rekan saat latihan membuat bahan ajar yang materinya diambil secara on-line melalui browsing. Ketika ditanya mengenai pelatihan tersebut,salah seorang guru berkomentar,” Walah,aku suka-suka lupa. Habis jarang megang komputer,bisa jadi kalian lebih jago,”
“Hmm,memang kendalanya pada guru-guru yang memang sudah agak lama mengajar (baca: sepuh) yang di massanya tidak ada pelajaran semassa kalian ini,”komentar seorang assistan instruktur.
Kawan,dari komentar yang barusan mungkin saja bisa ada celoteh ringan dengan anggapan…Guru-guru GAPTEK,JADUL,atau apalah… Tapi keGAPTEKan dan keJADULan mereka seakan terkikis dengan semangat mulianya menuju arah yang lebih baik. Dalam kegiatan I.C.T guru yang lulus tahun 70-an tentunya akan berbeda saat menerima pelatihan I.T dengan guru lulusan 2007. Mereka jauh memiliki kelebihan yang terpendam. Semangat hidup seorang guru. Bagai mutiara yang tertutup pasir pantai,tapi tetap akan terlihat karena kibasan ombak pasang.Mengajar dan mendidik.
Bayangkan sosok Bapak Umar Bakrie yang mengayuh sepeda ontelnya. Bisa jadi salah satu dari orang tua kita di sekolah (guru) pernah melewati massa-massa bakti yang menyulitkan. Selama puluhan tahun mengajar yang dulu masih memakai kapur dan papan hitam,beralih pada spidol ditemani papan putih dan beranjak kini menggunakan laptop serta infocus. Dan tak menutup kemungkinan bila beberapa tahun ke depan,saat jaman semakin modern,para guru dituntun profesional dengan menenteng robot canggih multifungsi yang menjadi assistan mereka saat mengajar. Agak lucu. Tapi bukan tak mungkin.
Tapi hal yang kini dapat di coba,biarlah mengawali ikhtiar dalam jihadnya mencerdaskan anak bangsa. Mengusung misi kemanusiaan dalam amanah sebuah profesi. Melalui pelatihan-pelatihan seperti I.C.T di 82 atau diklat kedinasan untuk menambah ilmu guru, sebagai makhluk individu dan membaginya pada murid-muridnya layaknya makhluk sosial. Teriring do’a dalam aksi kalian mendidik kami.
Dalam opini Pendidikan Indonesia,
Seorang murid yang mengharap keberkahan ilmu.
Dian Risky Lestari
SMA Negeri 82 Jakarta
“ini tulisan pertama saya di rubrik opini pada buletin buana siswa Jakarta”
Mencoba mengomentari pelatihan ICT di sekolah kecil mungil ku tercinta