Mama, wanita terhebat di muka bumi ini bagi saya. Wanita yang tidak pernah ingin saya kecewakan. Dengan segala keletihan dan kelelahannya semenjak keluarga saya mengalami distorsi yang lumayan mendasar. Semenjak itu yang ingin saya lakukan hanya mengukir senyum di wajah beliau.
Beliau bukan orang yang mudah tersenyum tapi pandai menyembunyikan kesusahannya. Dalam diamnya,saya hanya bisa menerka,,menebak-nebak apa yang saat ini beliau fikirkan (ketika berada di sampingnya). Dan dalam diamnya,sering saya artikan dengan: Aku harap anakku dapat membuatku tersenyum
Sebagai anak, akan menjadi beban bila semua hal yang saya lakukan hanya membuatnya susah,malu dan sedih. Dan saya sering membuatnya sedih. Dengan kondisi tubuh saya yang terlalu ringkih, tapi keinginan untuk selalu aktif bergerak tidak mereda. Padahal pada akhirnya,saya hanya akan membuatnya repot ketika beliau harus menyeduhkan teh hangat untuk saya yang sedang masuk angin. Bukan kah,seharusnya saya lah yang mesti menyeduhkan teh hangat untuk wanita yang bekerja keras siang dan malam hanya keluarganya itu?terlebih untuk saya. Saya membuatnya khawatir ditambah campuran marah ketika beliau mengolesi minyak kayu putih untuk mengusir angin yang membuat saya mual seharian. Padahal seharusnya,saya lah yang mesti mengurut tengkuk-tengkuknya yang selalu kelelahan. Juga mungkin saya pernah membuatnya kecewa akan pilihan pada penjurusan bidang disekolah. Tapi,beliau tetap saja ikhlas, tidak marah dan menuntut.
Dan perkataannya yang saya ingat yang membuat saya ingin selalu membuatnya bangga akan prestasi saya (meski tidak seberapa dan jauh dari hal yang dapat membayar pengorbanan beliau),”Mama pengen ngeliat anak-anak mama bahagia,biar deh sekarang mama yang capek…”
Justru saya yang slalu ingin melihat mama bahagia
Tapi saya masih bingung, dengan apa saya bisa membuatnya bahagia. Karena beliau bukan tokoh yang banyak menuntut, dengan keikhlasan beliau hanya sering diam. Dan beberapa kali menggulumkan senyuman ketika saya bilang dihadapannya,”Ma,aku menjuarai lomba ini lho,…” atau melalui telepon (karena tidak bisa bertemu) buat laporan jika,” Ma,dian terpilih sebagai…”,. Saat itu Mama menjawabnya melalui ujung kabel telepon di sana,”Alhamdulillah,…mama juga seneng,kamu jangan lupa banyak berdo’a,”
Ungkapan,”mama juga seneng”… Menampakkan begitu bahagianya beliau ketika saya bahagia. Beliau senang ketika anaknya senang. Tapi saya? Sebagai anak… Tidak sama sekali merasakan kelelahannya,padahal beliau berkorban waktu dan tenaga untuk saya. Dan saya lebih sering menuntut ketimbang mengerti namun beliau? Sebaliknya, beliau selalu mengerti dibanding menuntut.
Ma,dengan apa aku membalas baik mu?
maaf ma…
Mungkin bukan gunungan emas yang saat ini bisa aku persembahkan,
Pundi-pundi uang juga belum bisa aku berikan
Saat ini, dan selamanya aku ingin memenangkan hatimu,…
Meraih ridhomu
Ibu ku tersayang…