“Kukuruyuk..kukuruyuk…kukuruyuk”, suara bel alarm Alkindi terdengar nyaring hingga seantero rumahnya terbangun, pas 10 menit sebelum adzan subuh ber- kumandang.
“Kindi, ayamnya potong aja tuh biar diem, papa udah denger! Hayo kita shalat subuh berjamaah,” teriak sang ayah yang sudah bersiaga di ruang shalat. “Iya pa, sebentar Kindi mengucap mantra dulu.” Sahut Alkindi, kemudian dia berucap di depan kaca :
Bismillah….
Ya Rabb, terima kasih atas nikmat Mu dengan hari yang indah ini. Aku adalah orang yang menyenangkan dan akan kubuktikan dengan senyuman 1 juta watt dan keikhlasan 1 M byte.
Amin
Sambil menepuk-nepuk pipinya dan berulang kali mengucap kata “bayem”, “buncis. “bayem”, “buncis”, (entah mungkin dia ingin nyayur). Kemudian ia beranjak dari kamar dan melaksanakan shalat subuh.
Alkindi memang sangat suka dengan mantra spesialnya karena ia merasa dengan itu ia mendapatkan keringanan untuk beraktivitas dan motivasi saat terjatuh. Ia mendapatkan mantra spesial tersebut dari seorang ustad di sebuah majelis taqlim tepat malam tahun baru. Bayangkan anak SMA yang sedang matang-matangnya seperti Alkindi rela ngorbanin Tahun baruan di Puncak bareng sohib-sohibnya, saking ngefans sama ustad dekat rumahnya itu.(pemuda yang aneh..T.T)
“Kindi,pelan-pelan makannya nanti keselek!?” nasihat sang ibu sambil menuangkan air kegelasnya. “Iya ma, tapi kindi takut nanti Halimah terlambat, uhuk…uhuk…uhuk,” jawabnya sambil batuk-batuk karena keselek nasi. “Tenang aja ka, Imah udah nerjain PR ko,” adiknya berbicara untuk menenangkan hati si kakak “Ya, udah. Kakak udah selesai ayo berangkat nanti telat.” Ajaknya pada gadis imut yang baru duduk di kelas 1 SMP itu.
“Ma, pa, kami berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum,” ucap kakak beradik itu seraya mencium tangan orang tua mereka.
Sampai di teras depan, Alkindi kemudian mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya, kunci motor vespa kesayangannya. Inventaris dari ayah sebagai fasilitas bolak-balik Tangerang-Blok M. Tapi tak disangka-sangka dan tak diduga-duga motornya ngambek nggak bisa jalan. Sudah sejak lama ayahnya sadar bahwa vespa itu harus diganti, bahkan sudah sering beliau menyodorkan brosur-brosur motor pada Alkindi mulai dari bebek hingga harley, tapi Alkindi enggan menerimanya dengan alasan qonaah. Terpaksa jika si cantik –sebutan untuk vespanya- ngadat Alkindi dan adiknya harus berlapang dada naik bus antar kota sampai ke sekolah mereka masing-masing.
Alkindi dengan sabar menunggu bus sementara adiknya sudah berulang kali bertanya, “ Ka, ko’ bisnya nggak lewat-lewat ?” Alkindi yang begitu sayang pada adiknya kemudian berkata dengan senyum yang lembut, “ Dik, maafin kakak ya, gara-gara kaka lupa menservice si cantik, kamu ikut susah juga. Seketika rontoklah kejengkelan Imah untuk menunggu bus dengan senyuman kakaknya itu. Dia justru bersyukur memiliki kakak yang hatinya lembut, jika dia memiliki kakak yang berlawanan dengan Kindi mungkin kakaknya akan berkata, “ Bawel banget sih kamu !” tapi ini tidak. Makanya Imah selalu senang bila di dekat Alkindi. Semua serasa damai. Baru Alkindi berucap, bus yang dinanti akhirnya tiba, tampak dari luar bus itu tampak sesak, tapi saat sampai di dalam ada dua bangku yang kosong.
“Allhamdulilah, Mah kita masih kedapetan bangku,” hibur Alkindi pada adiknya. Keadaan tampak begitu sesak dan perjalananan pun macet, di samping Alkindi ada adiknya dan di depannya ada kakek-kakek tua. Alkindi menyapanya dengan sopan, “Permisi kek, silakan duduk, “Terima Kasih, nak. Semoga Allah memberimu kemudahan untuk belajar, ” doa kakek untuk anak muda yang memberinya tempat duduk. Tapi baru lima menit kakek itu duduk, ia sudah berdiri dan memberi bangku lagi pada Alkindi, dia bilang “Nak, kakek sudah mau turun,”
Hal itu berulang hingga tiga kali , setelah ia memberikan kursinya untuk nenek-nenek dan ibu-ibu hamil.
Bus berhenti di setiap tempat pemberhentian, hingga keadaannya berkurang sesaknya. Tapi tahu-tahu ke-tenangan penumpang bus terusik oleh seorang penumpang yang baru naik, seorang anak muda.
“Awas, awas minggir! Gue mau duduk! Sialan pagi-pagi mesti ngebis! Humpatnya berkali-kali. Anak muda itu melihat bangku kosong di barisan belakang. Saat itu ia menujunya untuk meraih, tiba-tiba dia kaget, Kindi!
“Senna, silakan duduk, tumben ngebis,” sapanya pada Arsena teman sekelasnya.
“Iya nih sopir gue sakit, terus ngasih taunya terlambat, gue disuruh ngebis sama papi, dasar tuh supirnya ga ontime deh!” berkata sangat kesal.
“Kalau bilang-bilangnya ontime, namanya bukan sakit,” kata Alkndi mesem-mesem.
“Oh iya, gue lupa,” jawab Arsena.
Telah sampai di Blok M, arloji mewah Arsena menunjukan pukul 07.00. Alkindi dan Arsena lari kesana kemari agar tidak terlambat, tapi sayang 1000 sayang, Pak Yadi satpam sekolah mereka sudah menutup pintu gerbang. Arsenna dengan semangat ’45 nekat manjat pagar sekolah, Alkindi hanya memperhatikannya dan berkata, “Sen, jangan macam-macam nanti ketahuan guru,” “Gue ga macem-macem Cuma satu macem,” tegas Senna. Ternyata benar perkataan Alkindi, Pak Gatot memergoki Arsenna dan ngamuk-ngamuk, “Senna! Ngapain kau! Turun!” Arsenna turun dengan kaget, alhasil celananya robek 5 cm tepat di selangkangannya. Alkindi yang berada di sampingnya Arsena pun menjadi terdakwa dan kena hukum juga, harus mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali.
“Hosh…hosh…hosh. aduh capek, Pak Gatot keterlaluan
udah capek-capek lari dari terminal malah ditambahin,” humpat Arsenna.
“Ya hitung-hiyung jogging,
he..he..he,” hibur Alkindi. Tak sampai di situ saja hukuman mereka. Karena terlambat mereka harus dikurung di perpus 2 jam mata pelajaran, dan ditugasi merapihkan katalog buku dari A-Z. Senna bingung pada sikap temannya yang slow.. slow saja sejak tadi.
“Kring…” suara bel pelajaran berganti Kindi dan Senna akhirnya keluar dari perpus, tapi di kelas Pak Antariksa sudah menanti dengan sejubel soal Fisika yang harus mereka selesaikan.
“Kindi, Senna! Kalian terlambat selesaikan se-mua soal-soal ini. Sontak mereka kaget, baru datang disambut 25 soal Fisika. Pusing 7 keliling mereka berdua, sampai-sampai tak-sanggup mengerjakannya.Kena hukum lagi lah mereka, berdiri di didepan kelas dengan 1 kaki dan tangan memegang kuping selama 1 jam pelajaran. Arsenna sudah miris-miris dan meminta ampun pada Pak Antariksa agar mereka menyudahi hukuman bagi mereka, sedang Alkindi tetap cool menerima hukuman tersebut. Arsenna benar-benar kagum pada sikap sobatnya itu.
Entah mengapa selama 1 hari Kindi dan Senna selalu bersama-sama, bersama-sama di hukum. Jangan-jangan mereka berjodoh, jodoh sebagai teman, tetapi, bukan hubungan spesial, soalnya mereka kan sama-sama laki-laki. Hingga ingin pulang, mereka masih berdua saja.
“Aduh dompetku ko hilang!?, Ya Allah gimana aku bissa pulang?” Alkindi kaget setengah mati. Arsenna yang berada di sampingnya merasa nggak tega dan menawarkan bantuan, “ Kin, lo pulang sama gue aja, tapi ngebis ntar gue bayarin.”
“Thank’s ya, aku akhirnya ga’ jadi musafir yang pulang jalan,” kata Alkindi.
Arsenna hanya memandang miris, temannya yang dianggap aneh olehnya itu. Alkindi dan Arsenna harus berjalan cukup jauh dulu untuk mendapati bis jurusan Tanggerang. Ditengah perjalannan mereka melihat nenek tua menggendong bakul dan berjalan tergopoh-gopoh. Melihatnya saja Arsenna sampai tersentuh dan berkata, “Kin, kin…lihat tuh nenek-nenek kasihan banget , kita bantuin yuk…”
“Oh iya, kasihan… samperin yuk,” ajak Alkindi.
Kemudian 2 pemuda berhati malaikat itu menghampiri nenek tua dan Senna pun berkata, “Permisi nek, dapat kami membantu, nenek? Dengan sisnis nenek itu menatap dan tiba-tiba berteriak, “Siape lo?! Mao ngapain? Gue masih kuat bawa dewek! Lo ber dua mau ngerampok gue ye!? Heh!!
Dengan lembut Alkindi berkata, “Bukan gitu nek, maksud ka…” Baru sampai di situ Alkindi berkata si nenek udah nyerocos, “Lo pade mo memperkaos, eh memperkosa gue ya! Alhasil orang-orang di sekitar mereka melirik dan berbisik-bisik. Alkindi dan Arsenna malu bukan main. Kemudian Arsenna bilang, “ Kin, ambil langkah 1000 lari………”
Setelah jauh dari nenek itu, Kindi hanya tertawa dan senyum-senyum, sementara Senna terus menghumpat, “Tu nenek mau dibantuin malah suudzon”. “Kin, kenapa sih di saat terjepit lo masih bisa senyum? Gue heran,” kata Senna menyampaikan unek-uneknya.
“Karena aku punya mantra spesial,” seraya senyum. “ Mantra apa?” tanya Senna. Lalu Kindi memberi tahu mantra spesial miliknya dan menceritakan sejarah mantranya tersebut.
Arsenna hanya ter-senyum kagum dan membanyol, “Dari tadi-kan kita apes, emangnya senyum dan keikhlasan lo masih ada?” “Ya masih ada, kan senyumku 1 juta watt dan keikhlasanku 1 M byte, masih tersisalah… he…he…he…”
Arsenna begitu kagum pada Alkindi dan bilang, “Apa gue boleh minta mantra spesial lo?”
Alkindi menjawab sambil tersenyum “Tentu.”
Cerita ini saya buat sebagai tugas petama pas kelas X,
eh taunya dimasukkin ke majalah sekolah sama seorang guru… hehehe^^,, dan jadi honor pertama…(cie gaji pertama)
alur nya memang rada mirip dengan cerita pengarang muda idola saya:
Adzimatinur Siregar
(meski pialaku terbang, bagian: Bad Day)